Jum'at, 10 Juli 2026
manurulqarnain.sch.id - Di bawah langit Tapal Kuda, Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming Raka, hadir membawa misi penting dalam rangkaian kunjungan kerjanya. Kehadiran orang nomor dua di Indonesia ini bukan sekadar agenda dinas biasa, melainkan sebuah ruang diskusi hangat antara ulama’ & umara' di kawasan Tapal Kuda.
Kunjungan kerja kali ini merajut tiga agenda, diawali dengan peninjauan langsung denyut nadi perekonomian nelayan di Pasar Ikan Muncar, lalu roda iring iringan patwal bergeser sedikit menuju pasar induk Banyuwangi yang baru usai direnov dengan gaya arsitektur muatan lokal khas rumah oseng sekaligus menjadi pasar yg dinobatkan sebagai cagar budaya. Setelah itu, Wapres Gibran bergeser lagi menuju acara yang tidak kalah krusial, yakni Silaturahmi Kebangsaan antara ulama’ & umara’ di Pondok Pesantren Ibnu Sina, Jalen-Genteng Banyuwangi. Di sinilah, di tengah keteduhan pesantren, gagasan-gagasan tentang masa depan bangsa didiskusikan bersama para kyai, tokoh masyarakat, dan pimpinan daerah, hadir mendampingi wapres Gubernur Jawa Timur Ibu Khofifah Indar Parawansa, Bupati, wakil bupati serta forkopimda Kabupaten Banyuwangi.
Di antara deretan tokoh yang hadir, tampak gus H. Nakhlid Syafi'i, S.E.,
M.H., selaku keluarga besar Pondok Pesantren Nurul Qarnain Jember, didampingi oleh Ustadz Syahrul Amin, Wakil Kepala Hubungan Masyarakat MA Nurul Qarnain. Disela-sela acara dialog, Gus Nakhlid diminta untuk mendampingi Wapres Gibran untuk menunaikan sholat Jum'at. Tampak kesederhanaan dan kerendahan hati Bapak Gibran, beliau menolak untuk ditempatkan di tempat yang telah disediakan oleh panitia serta memilih sholat di serambi Masjid berbaur bersama masyarakat.
Momen paling berkesan justru lahir dari dialog eksklusif antara Gus Nakhlid dan Wapres Gibran. Perbincangan yang terekam hangat dalam lensa dokumentasi tersebut, Wapres menitipkan tiga pesan mendalam yang ditujukan umumnya kepada seluruh santri di tanah air, dan secara khusus kepada seluruh santri Pondok Pesantren Nurul Qarnain Jember.
Pertama, beliau menekankan pentingnya merawat kerukunan. Di tengah keberagaman Indonesia, pesantren diharapkan mampu lebih merekatkan kembali hubungan antar anak bangsa.
Kedua, sebuah bentuk apresiasi dan rasa hormat (respect) yang tinggi dihaturkan Gibran kepada dunia pesantren. Di mata pemerintah, lulusan pesantren bukan lagi pelengkap, melainkan figur strategis yang punya potensi besar untuk menggerakkan roda kemajuan Indonesia di masa depan. Pesantren bukan hanya benteng negara, tetapi keberadaannya juga memiliki kapasitas yang sama untuk menentukan arah kemajuan bangsa dimasa mendatang.
Namun, pesan ketigalah yang paling menggugah: komitmen terhadap kesetaraan sosial. Wapres Gibran Raka Buming Raka dengan tegas menyatakan keinginannya untuk menghapus diskriminasi antara "kaum bersarung" (santri) dan masyarakat umum. Bagi beliau, tidak boleh ada perbedaan perlakuan dalam pembangunan bangsa. Semua anak bangsa, baik yang menimba ilmu di sekolah umum maupun di pesantren, memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk memajukan negeri ini.
Waktu berlalu, tepat pukul 13:40 WIB Wapres bersama rombongan memohon undur diri dari Pesantren Ibnu Sina untuk menuju tempat berikutnya di kota Situbondo dengan mengendarai 4 pesawat helikopter guna meresmikan Jalan Tol Exit Besuki - Paiton yang menjadi urat nadi baru bagi ekonomi logistik PROSIWANGI.
Pertemuan siang itu ditutup dengan sesi foto bersama. Senyum yang merekah antara Wapres, Gus Nakhlid & Ustadz Syahrul Amin menjadi penanda bahwa jembatan komunikasi antara pemerintah dan institusi pendidikan Islam di wilayah Tapal Kuda kini semakin kokoh.
Bagi civitas akademika MA Nurul Qarnain dan masyarakat luas, kunjungan ini bukan sekadar catatan berita. Ia adalah sebuah suntikan motivasi. Pesan yang dibawa pulang dari Banyuwangi ke Jember hari itu sangat jelas: Santri hari ini adalah pemimpin masa depa , dan pundak mereka kini siap menyangga kemajuan Indonesia tanpa ada lagi sekat perbedaan.
Semoga keberkahan para masyayikh senantiasa mengiringi langkah kita, menuntun hati agar tetap rendah, serta menguatkan semangat untuk terus berkhidmat demi kemaslahatan umat & bangsa.
Pewarta : Siti Nur Alisa


Tuliskan Komentar Anda