Remaja Dan Keresahan Dalam Konsep Self Love

Remaja dan Keresahan dalam Konsep “Self Love”

Remaja dan Keresahan dalam Konsep “Self Love”

manurulqarnain.sch.id - Belakangan ini, istilah self love sering banget muncul di media sosial. Dari caption Instagram sampai video motivasi di TikTok, semuanya seolah bilang “Cintai dirimu sendiri.” Kedengarannya sederhana, tapi buat banyak remaja konsep ini justru jadi sumber kebingungan baru.

Satu sisi, kita diminta untuk percaya diri dan menerima diri kita apa adanya. Sedangkan di sisi lain, kita hidup di dunia yang penuh tuntutan. Nilai harus bagus, harus punya prestasi, harus tampil menarik, harus aktif, dan harus jadi "seseorang” pada akhirnya. Semua keharusan itu akhirnya memuncul pertanyaan yang sering dipendam "sebenarnya aku ini cukup atau masih belum?"

Self Love itu Bukan Hanya Sekadar Percaya Diri

Banyak yang salah paham mengira self love itu berarti merasa paling hebat atau cuek dengan pendapat orang lain. Padahal, menurut Kompas Lifestyle, self love adalah kemampuan untuk menerima diri sendiri secara utuh, termasuk kekurangan kita. Tanpa terus-menerus menyalahkan diri sendiri. Ini lebih tentang soal berdamai dengan diri sendiri, bukan malah memuja diri.

Artinya, self love bukan berarti kamu harus selalu merasa baik-baik saja. Justru, mengakui bahwa kamu capek, kecewa, atau merasa kurang, juga bagian dalam mencintai diri sendiri.

Media Sosial dan Tekanan Tak Terlihat

Remaja hari ini tumbuh di era perbandingan tanpa henti. Setiap hari kita melihat versi terbaik hidup orang lain, baik prestasi, penampilan, serta pencapaian yang sudah mereka raih. Tanpa sadar, kita membandingkan proses hidup kita dengan hasil akhir orang lain.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa paparan media sosial yang berlebihan dapat menurunkan kepercayaan diri remaja dan meningkatkan kecemasan. Washington Post pernah menyoroti bagaimana banyak remaja merasa tertekan karena standar yang tidak realistis di dunia digital. Ini membuat self love terasa seperti tuntutan baru, bukan proses yang menenangkan.

Keresahan yang Jarang Dibicarakan

Faktanya, masa remaja memang masa pencarian jati diri. Menurut kajian psikologi perkembangan, remaja berada di fase rentan karena sedang membangun identitas diri dan sangat sensitif terhadap penilaian sosial. Ketika gagal memenuhi ekspektasi lingkungan, rasa tidak berharga mudah muncul.

Inilah kenapa banyak remaja terlihat baik-baik saja di luar, tapi menyimpan kegelisahan di dalam. Mereka ingin mencintai diri sendiri, tapi belum tahu caranya. Mereka ingin percaya diri, tapi takut dianggap tidak cukup.

Mencintai Diri itu Proses, Bukan Target

Self love tidak datang dalam satu malam. Ia tumbuh dari hal-hal kecil seperti berhenti membandingkan diri secara berlebihan, memberi ruang untuk gagal, dan belajar berbicara lebih ramah pada diri sendiri. Beberapa jurnal psikologi menyebutkan bahwa kebiasaan self-compassion atau welas asih pada diri sendiri berperan besar dalam menjaga kesehatan mental remaja.

Mencintai diri juga berarti mau berkembang, bukan berhenti berusaha. Self love bukan alasan untuk pasrah, tapi bekal untuk bertahan dan bangkit.

Pada akhirnya, keresahan remaja tentang self love adalah hal yang wajar. Hal tersebut adalah tanda bahwa kita sedang belajar mengenal diri sendiri. Tidak semua orang harus terlihat kuat setiap saat, dan tidak semua proses harus dipamerkan.

Mencintai diri sendiri bukan tentang menjadi sempurna, tapi tentang tetap menghargai diri meski belum sampai ke tujuan. Coba silangkan kedua tangan kamu dan letakkan di kedua pundak. Lalu pejamkan mata dan tepuk perlahan keduanya. Sambil ucapkan "Terimakasih sudah berjuang, mari berdamai dan kembali tumbuh menjadi lebih baik"

 

 

Tuliskan Komentar Anda