Pelatihan Kurikulum Berbasis Cinta Kbc Kepada Para Guru Kkm4 Di Pondok Pesantren Nurul Qarnain

Pelatihan Kurikulum Berbasis Cinta(KBC) Kepada Para Guru KKM4 di Pondok Pesantren Nurul Qarnain

Pelatihan Kurikulum Berbasis Cinta(KBC) Kepada Para Guru KKM4 di Pondok Pesantren Nurul Qarnain

manurulqarnain.sch.id - Sebagai bagian dari kebijakan pemerintah dalam penguatan pendidikan karakter, Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) mulai diperkenalkan dan diterapkan di berbagai satuan pendidikan.

Kurikulum ini hadir sebagai penyempurnaan dari Kurikulum Merdeka dengan menekankan nilai kasih sayang, keteladanan, dan pendekatan humanis dalam proses pembelajaran.

Sejalan dengan hal tersebut, Pondok Pesantren Nurul Qarnain menyelenggarakan pelatihan Kurikulum Berbasis Cinta bagi para guru senior pada Rabu, 21 Januari 2026.

Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman mendalam kepada para pendidik agar mampu mengimplementasikan KBC secara tepat, tidak hanya secara administratif, tetapi juga secara nilai dan praktik di ruang kelas.

Pelatihan ini diikuti oleh guru-guru dari berbagai lembaga pendidikan, baik internal pesantren maupun dari luar, yang menunjukkan antusiasme tinggi terhadap perubahan paradigma pendidikan yang lebih berorientasi pada cinta dan pembentukan karakter.

Pendidikan yang Berangkat dari Cinta

Salah satu peserta pelatihan, Ibu Aisyah dari Bustanul Ulum, menanggapi perubahan kurikulum ini dengan pandangan yang positif. Menurutnya, Kurikulum Berbasis Cinta menuntut pendidik untuk menghadirkan kesadaran batin dalam mendidik.

“Kurikulum ini benar-benar menekankan bahwa hubungan antara pendidik dan peserta didik harus dilandasi rasa cinta. Jadi bukan sekadar mengajar karena tuntutan administrasi yang sudah disediakan, tetapi lebih pada kesadaran untuk membimbing peserta didik dengan penuh kasih sayang,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa pendekatan ini mengajak guru untuk lebih memahami kebutuhan emosional siswa, sehingga proses belajar tidak lagi terasa kaku, melainkan lebih bermakna dan manusiawi.

Menguatkan Pemahaman Siswa melalui Refleksi

Sementara itu, Ibu Jannah dari MA Plus Keterampilan Nurul Qarnain menyoroti pentingnya cara guru mengayomi siswa agar pemahaman mereka tidak berhenti pada kata-kata, tetapi benar-benar tertanam dalam pikiran.

Menurutnya, salah satu kunci agar siswa memahami materi secara utuh adalah dengan mengaitkan pembelajaran dengan kehidupan sehari-hari.

“Siswa perlu tahu apa fungsi dari materi yang mereka pelajari dalam kehidupan nyata. Kalau mereka paham manfaatnya, semangat belajarnya akan muncul dengan sendirinya,” jelasnya.

Ia juga menekankan peran refleksi dalam Kurikulum Berbasis Cinta. Melalui refleksi, guru dapat mengetahui sejauh mana siswa memahami materi.

“Ketika guru bertanya dan siswa menjawab jujur apakah sudah paham atau belum, di situlah peran refleksi berjalan. Jika belum paham, guru bisa mengulang bagian yang belum dipahami. Namun jika sudah paham, materi tidak perlu diulang dan pembelajaran bisa dilanjutkan,” tambahnya.

Pendekatan ini dinilai lebih efektif karena menghargai kejujuran siswa dan waktu belajar yang berkualitas.

Harapan Terhadap Pembentukan Akhlak Peserta Didik

Adapun Ibu Ani dari MA Al Badri Kalisat menyampaikan harapannya terhadap penerapan Kurikulum Berbasis Cinta di masa mendatang. Ia berharap kurikulum ini mampu membawa perubahan nyata, khususnya dalam pembentukan akhlak dan perilaku peserta didik.

“Dengan adanya kata ‘cinta’ dalam kurikulum ini, saya berharap siswa bisa menjadi lebih baik, terutama dari segi adab dan tingkah laku. Tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga santun dan berakhlak,” tuturnya.

Menurutnya, pendidikan sejatinya tidak hanya berfokus pada pencapaian nilai, melainkan juga pada pembentukan karakter yang akan melekat pada diri siswa dalam jangka panjang.

Menuju Pendidikan yang Lebih Humanis

Melalui pelatihan ini, Pondok Pesantren Nurul Qarnain menunjukkan komitmennya dalam mendukung kebijakan pemerintah serta menghadirkan pendidikan yang lebih humanis dan berlandaskan nilai-nilai cinta. Diharapkan, para guru yang mengikuti pelatihan mampu menjadi agen perubahan dalam menerapkan Kurikulum Berbasis Cinta di lingkungan masing-masing.

Dengan pendidikan yang dilandasi cinta, proses belajar tidak hanya mencetak generasi yang cerdas, tetapi juga melahirkan insan yang berakhlak, berempati, dan siap menghadapi kehidupan dengan nilai-nilai kebaikan.

 

 

Tuliskan Komentar Anda