Malam yang dingin di kawasan Pesantren Nurul Qarnain mendadak hangat oleh dialektika ilmiah. Bertempat di ruang Multimedia MANUQA, Pengurus Organisasi Siswa Intra Madrasah (OSIM) bersama beberapa siswa MA Nurul Qarnain menggelar diskusi intensif. Tema yang diangkat cukup berani dan memicu adu argumen: "Mengapa Kita Merayakan Maulid Nabi?"
Diskusi malam itu menjadi arena adu gagasan yang luar biasa. Forum terbelah menjadi dua kubu utama, yakni kelompok yang mendukung (pro) dan kelompok yang mengkritisi (kontra) perayaan tahunan tersebut.
Kubu pro mengawali argumen dengan menegaskan bahwa Maulid Nabi adalah momentum ekspresi rasa syukur dan cinta (mahabbah) kepada Rasulullah SAW. Mereka menyitir berbagai dalil kontemporer dan klasik tentang anjuran bergembira atas kelahiran Nabi, sebagaimana petunjuk Al-Qur'an Surah Yunus ayat 58.
Lebih detail, kubu pro juga memperkuat hujah mereka dengan argumen Bid'ah Hasanah (inovasi yang baik). Mereka menegaskan bahwa meskipun tidak secara spesifik diperintahkan di zaman Nabi, Maulid adalah wadah berkumpulnya kebaikan. Di dalamnya terdapat pembacaan Al-Qur'an, selawat, santunan, dan edukasi sejarah (sirah) Nabi yang semuanya bernilai pahala. Argumen ini diperkokoh dengan mengutip kaidah fikih bahwa sesuatu yang menjadi sarana menuju kebaikan, maka hukumnya adalah baik dan dianjurkan.
Di sisi lain, suasana semakin menegangkan ketika kubu kontra mulai angkat bicara. Menggunakan pendekatan literalis yang ketat, mereka memaparkan dalil-dalil terkait bid’ah. Mereka mempertanyakan mengapa ritual ini tidak pernah dicontohkan secara spesifik oleh Rasulullah SAW, para sahabat, maupun generasi Salafus Shalih.
Ketegangan sempat memuncak saat kedua kubu saling adu kuat hujah dan autentisitas dalil.
Meski berjalan tegang dan penuh letupan argumen, diskusi tetap berjalan di atas rel etika kepesantrenan. Nilai-nilai akhlaqul karimah yang tertanam kuat dalam diri santri Nurul Qarnain membuat forum tidak lepas kendali. Tidak ada caci maki. Sebaliknya, yang tampak adalah sikap saling menghormati (tashamuh) terhadap perbedaan sudut pandang fakah.
Forum ilmiah ini pun berakhir dengan pemahaman yang lebih kaya dan mendalam, membuat malam itu terasa jauh lebih bermakna dari sekadar kajian searah.
Melalui diskusi terbuka ini, diharapkan para siawa MA Nurul Qarnain tidak hanya taklid buta, tetapi mampu memahami akar perbedaan pendapat dalam Islam secara dewasa. Harapan besar ke depan, tradisi berpikir kritis yang dibalut kesantunan pesantren ini terus subur, sehingga melahirkan generasi muda Nahdliyin yang cerdas, berwawasan luas, dan kokoh dalam menjaga ukhuwah Islamiyah di tengah perbedaan.


Tuliskan Komentar Anda